Jumat, 20 Juni 2014

Seorang Imam Pun Bisa Jadi Metalheads

http://www.portalkbr.com/berita/seni/__icsFiles/afieldfile/2013/12/04/turki_rocker_ahmet_facebook.jpg

Kata dia, Islam menunjukkan sisi toleran terhadap seorang imam. Tuzer berencana ke New York pada Oktober mendatang untuk konser antar agama dengan musisi dari agama di luar Islam. Dream - Meski menjadi seorang imam di Turki, tak membuat Ahmet Muhsin Tuzer meninggalkan band rock yang dirintiskan. Menurutnya berdakwah dan bermusik adalah satu hal yang tidak bertentangan.
 

Sebelumnya apa yang dilakukan Tuzer menuai kontroversi. Departemen agama Turki melakukan penyelidikan selama sembilan bulan untuk memutuskan apakah genre musik band Tuzer sesuai dengan Islam atau malah permainannya menciptakan konflik dengan perannya sebagai imam, yang merupakan pos yang didanai pemerintah Turki

Hasilnya, departemen agama Turki memutuskan membiarkan Tuzer melanjutkan hobinya tersebut sebagai anggota 'Firock'. Grup band ini telah memadukan rock dengan musik sufi mistik.

"Saya sangat senang pemerintah Diyanet telah menunjukkan ke seluruh dunia bahwa agama kita memang toleran, bukan yang hanya melarang hal-hal indah," ujar Tuzer yang berada dari dusun kecil di pantai Mediterania Turki, Diyanet.

Imam 43 tahun ini juga pernah menjadi berita utama pada Agustus 2013 lalu. Untuk pertama kalinya Tuzer dan Firock 'manggung' di depan umum dalam sebuah festival lokal di kota kediamannya. Itu mengundang banyak penonton yang penasaran.

"Anda akan melihat seorang imam yang berbeda, baik dari segi penampilan dan gaya bicara," kata Tuzer.

Ia mengaku akan kembali menggelar konser di kota terdekat dari Finike, bulan depan. "Ini akan menjadi konser sangat besar. Kami berharap setidaknya 20.000 orang hadir," katanya.

Tuzer juga berencana ke New York pada Oktober mendatang untuk konser antar agama dengan musisi Kristen dan Yahudi. Kata dia, Islam menunjukkan sisi toleran terhadap seorang imam. "Ini menunjukkan Islam tidak radikai, damai, mencintai semua orang".

Jumat, 23 Mei 2014

Arch Enemy Dengan Vokalis Baru

Indonesia Concerts, Jakarta - Berita yang sangat mengejutkan datang dari band Arch Enemy. Vokalis yang turut membesarkan nama mereka, Angela Gossow secara resmi telah meninggalkan band. Seiring dengan pernyataan yang mengumumkan mundurnya Angela Gossow tersebut, Arch Enemy juga telah mengumumkan vokalis baru yaitu Alissa White- Gluz.
Sebelumnya, Angela Gossow juga mengambil alih posisi vokalis Arch Enemy dari vokalis asli mereka yaitu Johan Liiva pada tahun 2000. Semenjak saat itu, Ia menjadi perintis yang membawa Arch Enemy ke tingkat keberhasilan yang belum pernah mereka alami. Dengan kepergian Angela Gossow dari Arch Enemy, vokalis baru Alissa White- Gluz juga dikabarkan telah berpisah dengan The Agonist untuk dapat lebih fokus pada Arch Enemy. Alissa White- Gluz akan ikut dalam pembuatan album baru Arch Enemy mendatang yang bertajuk "War Eternal War", yang dikabarkan akan rilis pada bulan Juni mendatang.
"Untuk para penggemar Arch Enemy, tidak mudah untuk menyampaikan hal ini. Aku telah memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisi vokalis Arch Enemy. Setelah 13 tahun, 6 album studio dan wisata ke lima benua, aku merasa perlu untuk memasuki fase yang berbeda dalam hidupku, dengan keluargaku dan mengejar kepentingan lain. Namun aku akan tetap menjadi manajer bisnis untuk Arch Enemy, dan akan terus mengembangkan manajemen artis milikku," ujar Alissa Gossow dalam statement resmi Arch Enemy.
"Aku tetap setia kepada heavy metal. AKu hanya akan meninggalkan sorotan. Aku memberikan obor kepada Alissa White-Gluz, yang telah aku kenal sebagai seorang teman dan vokalis yang luar biasa selama bertahun-tahun. Aku selalu berpikir ia layak mendapat kesempatan untuk bersinar, dan sekarang ia mendapatkan itu. Sama seperti yang aku lakukan pada tahun 2001.." tutupnya.


Jumat, 25 April 2014

Anak Punk Myanmar



Keran demokrasi yang deras mengalir di Myanmar tak hanya menyentuh dunia politik negeri itu. Musik dan gaya hidup pemudanya pun terkena imbasnya, sejumlah remaja Myanmar kini mulai mempopulerkan gaya mereka, gaya Punk rock di jalanan Yangoon.

Sejumlah remaja Myanmar mengenakan atribut punk saat berkumpul untuk turut meramaikan festival air yang berlangsung selama empat hari di Pasar Bogyoke. Musik dan gaya hidup punk rock menjadi trend baru di kalangan anak muda Myanmar bersamaan dengan terbukanya keran demokrasi yang membawa negeri itu menuju perubahan di segala hal.























add to any

Share